Dinkes Belum Bertindak,Terkait Pil Ungu Yag Membuat Semaput 10 Remaja Tangerang
January 2nd, 2012 | Published in kesehatan
Tangerang,FESBUK BANTEN News (2/1) - Maraknya peredaran pil berbahaya yang sempat membuat semaput 10 remaja Cipondoh Makmur, belum mau ditindaklanjuti dinas terkait. Meskipun mengaku sudah melakukan pengecekan lapangan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang masih enggan membeberkan tindakannya lebih rinci.
Saat ditemui wartawan usai Rapat Koordinasi Rencana Penggeratisan Bea Puskesmas di Ruang Akhlakul Karimah, Senin (2/1), Kepala Bidang Pengawas Obat dan Makanan (POM) Dinkes Kota Tangerang Heri Sudaryanto, Sekretaris Dinkes Wibisono, dan Kepala Dinkses Lilly Indrawati, ketiganya tidak mau mengomentari lebih jauh.
Bahkan, beberapa kali dipertegas apa yang akan dilakukan, ketiganya cenderung tak mau menjawab, lantas meninggalkan sejumlah wartawan lokal yang hendak menanyakan hal serupa sambil masuk lift. “Sudah ada tim yang memeriksa, tapi belum ada hasil,” kata Heri Sudaryanto.
Ditanyakan lagi apa tindakan yang akan dilakukan, seperti harapan warga agar ada penutupan toko obat, pengawasan lebih jauh, Wibisono dan Lilly hanya terdiam. “Soal itu ada di Bagian POM. Kami belum bisa bertindak,” singkat Wibisono yang juga naik lift bersama Heri dan Lilly.
Sebelumnya, sedikitnya 10 remaja di Kelurahan Cipondoh Makmur, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang nyaris sekarat akibat menenggak empat butir pil ungu jenis arkin. Warga setempat pun menegarai hal itu terjadi lantaran lemahnya pengawasan peredaran obat yang dilakukan dinas terkait. Obat tanpa resep ini pun dijual bebas di toko-toko obat tak berlisensi.
Para orang tua korban pun menuntut kepada Dinas Kesehatan dan Kepolisian untuk menutup obat pil ungu tersebut. “Kami sebagai orang tua jelas sangat khawatir dengan peredaran obat ini. Kami minta dinas terkait bertindak. Tutup toko-toko obat itu,” kata Bewok, 39, orang tua salah satu korban Riyan, Jumat (30/12) lalu.
Sementara itu, pengakuan Riyan, pil-pil seperti itu memang bebas dijual di Toko Obat Cina Semesta Alam yang biasa disebut Sinshe di Pertokoan Poris Indah, Kecamatan Batu Ceper. Namun, mereka lebih sering membeli pil yang mereka sebut dengan istilah Arkin dan bukan eximer atau blueberry (pil ungu) yang membuat mereka langsung tepar setelah menenggaknya.
“Kita tau pil ini dari anak-anak punk yang nongkrong di pinggir jalan. Efeknya bisa bikin ngefly. Dan kami pun sering membeli yang warna putih Rp600 per butirnya. Kalau pil ungu kami baru pertama kali meminumnya,” ucap Riyan. (Kun Aqmar)


Lihat Distribusi Bantuan FBN Banjir Banten 2013